Sabtu, 07 Februari 2015

BAB 1

1. Akhir ini adalah Awal dari segalanya... 

 

Senja mulai bergelanyut manja, dan angin mencium wajahku dengan mesra. Ku tengadahkan kepalaku menatap langit yang mulai mengundang bintang dan bulan untuk bersinar, yaa.. menggantikan sinar matahari yang seharian ini membuat wajahku kusam, ku pejamkan mataku dan ku sela nafas panjang-panjang untuk menghilangkan letihku. Dan air menetes dari penglihatanku, ntah apa yang aku rasakan, namun aku cukup lelah berada di kota orang. Menjalani hari-hari jauh dari keluarga, terus dikejar deadline dan dengan kehidupan yang luar biasa runyam. Aku merasa bahagia, namun aku sadar ini bukanlah bahagia yang sesungguhnya. Pekerjaanku sukses dengan gaji 50jt perbulan, relasi dan kawanpun banyak. Aku bisa membeli dan memiliki apapun yang aku inginkan, namun sepertinya bukan ini yang aku butuhkan. Jiwa dan hatiku kosong, "aku harus berubah" pikirku. Air mata ini semakin deras dan tak terbendung, ku tundukkan kepalaku dan terus berfikir. Meminta kepada Sang pembuat hidup untuk memberi petunjuk dari kegelisahanku.

Kakiku mulai melangkah menuju kamar, tempat dimana aku sering menghabiskan waktuku selama di kota ini. Cermin besar menangkap wajahku, ku pandangi wajah di cermin itu dan Alloh semakin membukakan pikiranku. Harus ku tanggalkan semua pakaian yang serba minim ini, mungkin inilah waktunya untuk aku menutup aurat dan meninggalkan pekerjaanku sebagai Financial Consultant. Ku seret tubuhku mendekati cermin, semakin mendekat dan kini jarak wajahku dan cermin hanya sekitar 20 cm, ku mencoba terus meyakinkan hati ini hingga akhirnya aku putuskan untuk menelpon atasanku. " Bos, mohon maaf aku harus mengundurkan diri " Ucapku dengan nada yang begitu berat, terdengar dari handphoneku suara yang begitu kaget " Apa yang kamu katakan Meera? Serius? ".  Belum sempat aku menjawab sudah ada pertanyaan lain yang bertubi-tubi " Lalu bagaimana nasib nasabahmu? Apa tidak sayang dengan bonusmu? Kita masih butuh kamu, lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini? " dan pertanyaan-pertanyaan ini yang semakin membuatku merasa terpojokkan. Dengan suara lirih aku menjawab " Aku serahkan dan percayakan semua padamu, aku harus pulang dan kembali ke kota kelahiranku. Kembali ke pelukan keluargaku, sekali lagi maafkan aku bos ", perpisahan ini sungguh sebenarnya sangat aku benci namun akupun merasakan tubuh ini sudah semakin lelah. Aku yakin keputusanku ini juga sangat memberatkan atasan dan rekan-rekan kerjaku " Baiklah kalo ini keputusanmu, aku hargai. Kami semua kawanmu berharap yang terbaik untukmu " ucap atasanku yang kemudian berakhir dengan putusnya pembicaraan yang amat menyebalkan ini.

Dan malam ini hanya ku habiskan dengan terus berfikir, terus mengintropeksi diriku sendiri. Aku sadar segala yang terjadi di masa lalu dan saat ini bukan untuk di sesali atau diratapi tapi dijadikan pelajaran, ilmu yang tidak akan pernah kita dapat di bangku sekolah atau kuliah manapun. Pelajaran yang harus memotivasi diri kita untuk menjadi manusia yang lebih baik, kini aku sudah yakin untuk mengakhiri semua yang ada di kota ini dan memulai yang baru di kota asalku, kota kelahiranku yang sudah menantiku dengan cerita cintanya..

            Bersambung...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar