BAB 1
1. Akhir ini adalah Awal dari segalanya...
Senja mulai bergelanyut manja,
dan angin mencium wajahku dengan mesra. Ku tengadahkan kepalaku menatap
langit yang mulai mengundang bintang dan bulan untuk bersinar, yaa..
menggantikan sinar matahari yang seharian ini membuat wajahku kusam, ku
pejamkan mataku dan ku sela nafas panjang-panjang untuk menghilangkan
letihku. Dan air menetes dari penglihatanku, ntah apa yang aku rasakan,
namun aku cukup lelah berada di kota orang. Menjalani hari-hari jauh
dari keluarga, terus dikejar deadline dan dengan kehidupan yang luar
biasa runyam. Aku merasa bahagia, namun aku sadar ini bukanlah bahagia
yang sesungguhnya. Pekerjaanku sukses dengan gaji 50jt perbulan, relasi
dan kawanpun banyak. Aku bisa membeli dan memiliki apapun yang aku
inginkan, namun sepertinya bukan ini yang aku butuhkan. Jiwa dan hatiku
kosong, "aku harus berubah" pikirku. Air mata ini semakin deras dan tak
terbendung, ku tundukkan kepalaku dan terus berfikir. Meminta kepada
Sang pembuat hidup untuk memberi petunjuk dari kegelisahanku.
Kakiku
mulai melangkah menuju kamar, tempat dimana aku sering menghabiskan
waktuku selama di kota ini. Cermin besar menangkap wajahku, ku pandangi
wajah di cermin itu dan Alloh semakin membukakan pikiranku. Harus ku
tanggalkan semua pakaian yang serba minim ini, mungkin inilah waktunya
untuk aku menutup aurat dan meninggalkan pekerjaanku sebagai Financial
Consultant. Ku seret tubuhku mendekati cermin, semakin mendekat dan kini
jarak wajahku dan cermin hanya sekitar 20 cm, ku mencoba terus
meyakinkan hati ini hingga akhirnya aku putuskan untuk menelpon
atasanku. " Bos, mohon maaf aku harus mengundurkan diri " Ucapku dengan
nada yang begitu berat, terdengar dari handphoneku suara yang begitu
kaget " Apa yang kamu katakan Meera? Serius? ". Belum sempat aku
menjawab sudah ada pertanyaan lain yang bertubi-tubi " Lalu bagaimana
nasib nasabahmu? Apa tidak sayang dengan bonusmu? Kita masih butuh kamu,
lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini? " dan
pertanyaan-pertanyaan ini yang semakin membuatku merasa terpojokkan.
Dengan suara lirih aku menjawab " Aku serahkan dan percayakan semua
padamu, aku harus pulang dan kembali ke kota kelahiranku. Kembali ke
pelukan keluargaku, sekali lagi maafkan aku bos ", perpisahan ini
sungguh sebenarnya sangat aku benci namun akupun merasakan tubuh ini
sudah semakin lelah. Aku yakin keputusanku ini juga sangat memberatkan
atasan dan rekan-rekan kerjaku " Baiklah kalo ini keputusanmu, aku
hargai. Kami semua kawanmu berharap yang terbaik untukmu " ucap atasanku
yang kemudian berakhir dengan putusnya pembicaraan yang amat
menyebalkan ini.
Dan malam ini hanya ku habiskan dengan terus berfikir, terus mengintropeksi diriku sendiri. Aku sadar segala yang terjadi di masa lalu dan saat ini bukan untuk di sesali atau diratapi tapi dijadikan pelajaran, ilmu yang tidak akan pernah kita dapat di bangku sekolah atau kuliah manapun. Pelajaran yang harus memotivasi diri kita untuk menjadi manusia yang lebih baik, kini aku sudah yakin untuk mengakhiri semua yang ada di kota ini dan memulai yang baru di kota asalku, kota kelahiranku yang sudah menantiku dengan cerita cintanya..
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar