Sabtu, 28 Februari 2015

Tolak ukur kebahagiaan Rumah Tangga..

Repost from Indadari..

"Apa sih tolak ukur keberhasilan Rumah Tangga??" Sebagian besar masyarakat mengatakan, ada 2 hal yg jika terjadi maka Rumah Tangga tersebut terbilang sukses :
1) Punya anak
2) Banyak harta

Bukan!! Bukan itu!!
#Pertama, Rumah Tangga Aisyah Radhiallaahu 'anha tidak dikaruniai anak. Lalu, apakah kita akan berkata Suami-Istri tersebut tidak harmonis?? Tidak bahagia??
#Kedua, Rumah Tangga Fatimah Radhiallaahu 'anha sangat minim harta. Sang istri pernah menahan laparnya selama beberapa hari hingga kuninglah wajah beliau, lalu apakah kita berani mengatakan bahwa Rumah Tangga mereka hancur berantakan diujung tombak?? Tidak!! Bahkan suami beliau adalah salah satu penghuni Surga Allah. Maa syaa'Allah..
Benar, sebagai seorang istri jangan bermudah-mudahan untuk menuntut kalimat perpisahan hanya karna kedua sebab diatas. Sebab ummahatul mukminin tidak pernah memberatkan suaminya dengan perkataan tercela. Juga sebagai seorang suami jangan bermudah-mudahan mengatakan "Aku tak punya harta, aku tak pantas untukmu duhai istriku"
Innalillahi wa inna ilayhi rooji'un, taukah para suami kalimat tersebut justru enggan didengar oleh istri kalian. Sebab para sahabat tidak.tercermin dalam diri mereka sifat keputus-asaan..
*Tolak ukur keberhasilan Rumah Tangga seorang muslim ialah :
#Ketika setelah menikah, maka bertambahlah taqwa mereka Kepada Alloh
#Ketika setelah menikah, maka bertambahlah amalan2 sunnah mereka
#Ketika setelah menikah, bertambahlah hafalan2 mereka
#Ketika setelah menikah, bertambahlah kesabaran mereka dlm setiap takdir Alloh
#Ketika setelah menikah, bertambahlah ghiroh mendatangi majlis ilmu Alloh
#Pun ketika setelah menikah, bertambah takutlah mereka sebab mengingat hari dimana mereka akan terpisah dan menghadapi sidang Rabb-nya yg paling adil. Bertambah berharaplah mereka Kepada Rabb-nya agar bisa dinikahkan lagi dalam Jannah Alloh tanpa hisab..
« Kita sudah sangat bahagia suamiku, percayalah »

Sabtu, 07 Februari 2015

BAB 1

1. Akhir ini adalah Awal dari segalanya... 

 

Senja mulai bergelanyut manja, dan angin mencium wajahku dengan mesra. Ku tengadahkan kepalaku menatap langit yang mulai mengundang bintang dan bulan untuk bersinar, yaa.. menggantikan sinar matahari yang seharian ini membuat wajahku kusam, ku pejamkan mataku dan ku sela nafas panjang-panjang untuk menghilangkan letihku. Dan air menetes dari penglihatanku, ntah apa yang aku rasakan, namun aku cukup lelah berada di kota orang. Menjalani hari-hari jauh dari keluarga, terus dikejar deadline dan dengan kehidupan yang luar biasa runyam. Aku merasa bahagia, namun aku sadar ini bukanlah bahagia yang sesungguhnya. Pekerjaanku sukses dengan gaji 50jt perbulan, relasi dan kawanpun banyak. Aku bisa membeli dan memiliki apapun yang aku inginkan, namun sepertinya bukan ini yang aku butuhkan. Jiwa dan hatiku kosong, "aku harus berubah" pikirku. Air mata ini semakin deras dan tak terbendung, ku tundukkan kepalaku dan terus berfikir. Meminta kepada Sang pembuat hidup untuk memberi petunjuk dari kegelisahanku.

Kakiku mulai melangkah menuju kamar, tempat dimana aku sering menghabiskan waktuku selama di kota ini. Cermin besar menangkap wajahku, ku pandangi wajah di cermin itu dan Alloh semakin membukakan pikiranku. Harus ku tanggalkan semua pakaian yang serba minim ini, mungkin inilah waktunya untuk aku menutup aurat dan meninggalkan pekerjaanku sebagai Financial Consultant. Ku seret tubuhku mendekati cermin, semakin mendekat dan kini jarak wajahku dan cermin hanya sekitar 20 cm, ku mencoba terus meyakinkan hati ini hingga akhirnya aku putuskan untuk menelpon atasanku. " Bos, mohon maaf aku harus mengundurkan diri " Ucapku dengan nada yang begitu berat, terdengar dari handphoneku suara yang begitu kaget " Apa yang kamu katakan Meera? Serius? ".  Belum sempat aku menjawab sudah ada pertanyaan lain yang bertubi-tubi " Lalu bagaimana nasib nasabahmu? Apa tidak sayang dengan bonusmu? Kita masih butuh kamu, lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini? " dan pertanyaan-pertanyaan ini yang semakin membuatku merasa terpojokkan. Dengan suara lirih aku menjawab " Aku serahkan dan percayakan semua padamu, aku harus pulang dan kembali ke kota kelahiranku. Kembali ke pelukan keluargaku, sekali lagi maafkan aku bos ", perpisahan ini sungguh sebenarnya sangat aku benci namun akupun merasakan tubuh ini sudah semakin lelah. Aku yakin keputusanku ini juga sangat memberatkan atasan dan rekan-rekan kerjaku " Baiklah kalo ini keputusanmu, aku hargai. Kami semua kawanmu berharap yang terbaik untukmu " ucap atasanku yang kemudian berakhir dengan putusnya pembicaraan yang amat menyebalkan ini.

Dan malam ini hanya ku habiskan dengan terus berfikir, terus mengintropeksi diriku sendiri. Aku sadar segala yang terjadi di masa lalu dan saat ini bukan untuk di sesali atau diratapi tapi dijadikan pelajaran, ilmu yang tidak akan pernah kita dapat di bangku sekolah atau kuliah manapun. Pelajaran yang harus memotivasi diri kita untuk menjadi manusia yang lebih baik, kini aku sudah yakin untuk mengakhiri semua yang ada di kota ini dan memulai yang baru di kota asalku, kota kelahiranku yang sudah menantiku dengan cerita cintanya..

            Bersambung...


Rabu, 04 Februari 2015

Kebahagiaan yang hakiki..

Apakah kebahagiaan seseorang hanya dapat dilihat dari mewahnya rumah yang ia tinggali? Atau mahalnya mobil yang ia kendarai? Atau beratnya perhiasan yang ia pakai? Tak di pungkiri, untuk hidup kita memang membutuhkan uang. Namun yang perlu di garis miring dan tebal adalah KEBAHAGIAAN YANG HAKIKI BUKAN MELULU SOAL HARTA..
Banyak bahkan jutaan manusia hidup di dunia ini sangat bahagia dengan keadaan mereka yang apa adanya bahkan sebagian kekurangan, mereka bisa dibilang miskin harta namun yang membuat mereka jauh bahagia adalah mereka kaya hati, kaya kasih dan sayang. Dan "simple"nya mereka pun bahagia karna rasa syukur, yaaa.. mereka lebih pandai bersyukur dari pada orang-orang yang hanya bisa slalu mengeluh mengeluh dan mengeluh. Mereka tidak pernah meragukan kekuasaan Alloh, walaupun hidupnya susah tapi mereka slalu ikhlas menerima apapun pemberian Alloh karna mereka percaya Alloh sudah mengatur rizki mereka dan apabila mereka terus berusaha maka Alloh takkan membiarkan mereka kelaparan.  Beda dengan sebagian orang yang malah marah-marah, murka, kemudian kembali mengeluh jika mereka tak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Slalu merasa hidup mereka kurang dan kurang dan dihantui rasa ketidakpuasan, lalu ragu dengan kekuasaanNya, padahal Alloh itu Maha Kaya..
Bagi orang yang hidupnya kurang, makan dengan nasi garam pun sudah sangat nikmat apabila dimakan bersama keluarga, bercengkerama dan bercanda dengan saudara membuat tawa mereka sangat indah, bermain hujan-hujanan dengan sahabat jauh lebih menyenangkan daripada bermain boneka. Dan mereka tetap bersyukur, mereka terlihat lebih kaya bukan? Ketimbang orang yang slalu makan di restoran namun sendirian, yang slalu menonton tv dalam kesepian ibarat kata semua ada dirumah tapi asyiik sendiri, hihiihi.. bahkan yang banyak kawan namun ternyata justru mereka adalah lawan. Nah, maka dari itu kaya yang membuat kita bahagia tidak dapat di ukur hanya dengan harta, materi atau bahkan tahta. Tapi orang-orang tulus di sekitar kitalah yang membuat kita kaya..
Jadi kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan saat kita hidup dikelilingi oleh keluarga, saudara dan sahabat yang menemani kita tulus dalam suka dan duka. Yang mampu membuat sedih menjadi tawa, yang membuat kesederhanaan menjadi kesempurnaan karna rasa syukur. Kebahagiaan bukanlah karna kita dikelilingi harta namun miskin kasih sayang karna kasih sayanglah kekayaan yang sejati, dan kebahagiaan yang miskin syukur adalah tipuan untuk membuat mereka terlihat bahagia tanpa bahagia yang sesungguhnya. Allright??
Tiap orang pasti punya masing-masing cara untuk bahagia, dalam hal ini satu yang dapat kita ambil pelajarannya. Jangan pernah kita menghina, menyepelekan, meremehkan orang yang terlihat kurang atau miskin karna bisa jadi mereka lebih hidup bahagia daripada kita. Dan jangan pernah menganggap bahwa kita lebih kaya dari mereka karna bisa jadi kekayaan mereka lebih berarti dari kekayaan yang kita punya. Demikianlah :-)

Minggu, 01 Februari 2015

ROBBI HABLI MINASSHOLIHIN..

Assalamualaikum..
Malam ini aku dihadapkan lagi pada kesepian, ya tiap hari tiap waktu hanya dihabiskan berdua oleh aku dan suamiku. Dan pasti teringat saat lisan-lisan orang di luar sana begitu indah mengucap pertanyaan, sindiran bahkan hujatan. Aku hanya bisa menyerahkan keluh kesahku padaMu, Tuhan Yang Berkuasa atas segala yang di langit dan di bumi. Ibu.. tidak ada satu orang wanita pun di dunia ini yang tidak ingin di panggil ibu, begitupun aku yang sungguh ingin di panggil ibu oleh makhluk kecil ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.
Terkadang aku larut dalam kesedihan tapi tak lelah suamiku terus menopangku, berulang dan selalu hingga aku semakin kuat berdiri, semakin kuat melangkah, menjalani dan mensyukuri apa yang sudah ada dalam hidupku.
Aku percayakan semua hanya pada Alloh Azza Wa Jalla, aku hanya bisa berusaha dan terus berdoa namun hasil akhirnya terserah Alloh. Karna aku yakin tanggal, hari, bulan, tahun dan waktu seorang anak lahir sudah ditentukan dan tidak akan pernah tertukar. Aku percaya Alloh akan memberikan aku dan suamiku yang terindah dan yang terbaik dari yang terbaik, Insya Alloh..
Setidaknya kini aku harus lebih bersyukur, karna mungkin aku dan suamiku lebih memiliki banyak waktu untuk dihabiskan berdua ketimbang pasangan lain. Namun harapan ini masih terus ada..
Tuhan Yang Maha Kaya, aku tau penantianku pasti akan berakhir bahagia. Aku percaya segala doaku akan Engkau ijabah, dan tak lelah aku terus bersabar untuk menunggu keajaibanMu dengan ikhlas..
Tuhan Yang Berkuasa atas kehidupan, kuatkan kuncup ikhlasku bermekaran hingga indahnya mewarnai dan membawa kebahagiaan dalam hidupku. Hingga harumnya menjadi hasil dari penantianku, aku percaya KuasaMu. TakdirMu menunggu di tiap syahadat-ku, di setiap doaku telah kau rancang taman yang begitu indah untuk kami berlabuh. Dan tak akan pernah lelah menunggu musim berganti, mengganti dahaga ini dengan kesegaran atas segala nikmatMu penuh syukur...
Semua akan indah pada waktunya :-)